SAMPANG || Pataukota.com – Di tengah hiruk pikuk kota yang terus berlari mengejar modernitas, ada satu kisah inspiratif yang lahir dari sebuah desa sederhana di pinggiran utara Kota Sampang, Madura.
Desa Taman Sareh, yang dulunya dikenal dengan keterbatasan akses pendidikan, kini menjadi saksi nyata perjuangan seorang tokoh yang dengan sepenuh hati mendedikasikan hidupnya untuk mencerdaskan generasi muda. Dialah Drs. Abd. Rahman Qohar, pendiri Yayasan Pendidikan Islam Ubaidir Rohman.
Benih perjuangan itu tumbuh bukan karena fasilitas yang memadai, melainkan dari dorongan seorang gurunya, Almarhum KH. Kholil Minhaji, pengasuh Pondok Pesantren Assyahidul Kabir Sumber Batu Blumbungan Pamekasan. Dari motivasi itulah, Drs. Abd. Rahman Qohar mulai merencanakan berdirinya lembaga pendidikan di tanah kelahirannya.
Namun, jalan panjang yang ditempuh tidaklah mulus. Dana dan tanah pun masih menjadi angan - angan. Meski begitu, tekad yang terpatri di dalam dada seorang pendidik sejati mengalahkan segala keterbatasan.
Pada tahun 2003, langkah pertama dimulai, berdirilah Madrasah Tsanawiyah Shofyanul Abshor dengan hanya tiga kelas sederhana.
Bupati yang menjabat saat itu sempat memberikan bantuan berupa semen dan bahan bangunan lain. Meski tidak banyak, cukup menjadi penopang semangat di kala masyarakat sekitar masih memandang dingin.
Bagi warga Taman Sareh kala itu, sekolah dianggap proyek yang di biayai oleh pemerintah, padahal nyatanya semua lahir dari keringat dan keteguhan hati sang pendiri.
“Saya hanya ingin anak-anak di desa ini bisa sekolah tanpa harus jauh-jauh ke kota. Walaupun dengan keterbatasan, saya yakin pendidikan bisa mengubah masa depan mereka”, tutur Drs. Abd. Rahman Qohar dengan mata berkaca-kaca saat mengenang masa awal berdirinya yayasan.
Taman Sareh kala itu bukanlah desa yang ramah pendidikan. Mayoritas masyarakat hanya lulusan SD, bahkan banyak yang tak menyelesaikan sekolah dasar.
Kondisi ini justru semakin membakar semangat Drs. Abd. Rahman Qohar. Beliau ingin anak-anak di desanya tak lagi dipandang sebelah mata.
Beliau ingin membuktikan bahwa kualitas pendidikan bukan hanya milik anak-anak kota. Perlahan namun pasti, Yayasan Ubaidir Rohman tumbuh menjadi mercusuar ilmu di desa pinggiran utara Kota Sampang.
Seorang warga, Muzammil, yang kini menjabat sebagai Kepala Desa Taman Sareh, mengakui peran besar beliau.
“Dulu banyak warga kami yang tak percaya sekolah ini bisa maju. Tapi hari ini, berkat kerja keras Pak Rahman, anak-anak kami bisa meraih pendidikan yang tinggi. Bahkan sudah banyak yang berhasil menjadi sarjana. Itu sesuatu yang dulu hanya mimpi bagi kami yang hanya tinggal di desa” ungkapnya.
Kini, setelah lebih dari dua dekade, perjuangan itu berbuah manis. Yayasan Ubaidir Rohman telah melahirkan lembaga pendidikan lanjutan, termasuk Madrasah Aliyah Azzaytun.
Dari ruang-ruang kelas sederhana itu lahir para sarjana muda, putra-putri desa yang kini bisa berdiri sejajar dengan mereka yang menempuh pendidikan di kota.
Muhammad Seorang alumni, yang kini sedang menempuh kuliah di Surabaya, mengenang jasanya.
“Kalau tidak ada MTs. Shofyanul Abshor dan MA. Azzaytun, mungkin saya tidak akan bisa sekolah lebih tinggi. Dari sinilah jalan saya terbuka. Kami berhutang budi kepada beliau". Ujarnya.
Apa yang dirintis oleh Drs. Abd. Rahman Qohar bukan sekadar membangun gedung sekolah, melainkan membangun peradaban dan kepercayaan diri masyarakat desa.
Lewat tangan dinginnya, Taman Sareh yang dulunya dipandang sebelah mata, kini bangkit dengan generasi muda berilmu dan mampu berdaya saing.
“Saya bukan siapa-siapa, hanya orang desa yang ingin melihat anak-anak di sini punya masa depan. Kalau ada yang sukses, itu sudah cukup jadi kebahagiaan untuk saya,” ujar beliau dengan rendah hati.
Sosoknya mungkin tak tercatat dalam buku sejarah besar negeri ini, namun di hati masyarakat Taman Sareh, Nama Drs. Abd. Rahman Qohar akan selalu dikenang sebagai pejuang tanpa tanda jasa seorang guru yang menjadikan ilmu pengetahuan sebagai warisan abadi untuk anak-anak bangsanya.
Editor : Redaksi