SURABAYA // Pantaukota.com– Bara kemarahan tengah menyala di Madura. Pernyataan anggota Komisi III DPR RI dari Fraksi PKS, Aboe Bakar Al-Habsyi, yang menuding ulama dan pesantren di Madura terlibat narkoba karena ada cuan, memicu gelombang perlawanan terbuka. Aliansi Madura Indonesia (AMI) tak tinggal diam mereka bersiap mengguncang Surabaya dengan aksi massa besar-besaran.
Ketua Umum AMI, Baihaki Akbar, melontarkan peringatan keras. Ia menilai pernyataan tersebut bukan sekadar kontroversi, melainkan serangan langsung terhadap kehormatan ulama dan pesantren.
Baca juga: Bau Mafia Cukai Kian Menyengat! AMI Tekan KPK Usai Periksa Pengusaha Rokok
“Jangan main-main dengan marwah ulama! Ini bukan salah ucap ini serangan terbuka yang mencederai kehormatan pesantren,” tegas Baihaki, Minggu (12/4/2026).
Nada yang lebih tajam datang dari Dewan Penasehat Keagamaan AMI, Gus Ghoiron, yang memastikan dirinya akan memimpin langsung aksi di lapangan. Ia menyebut tudingan tersebut sebagai “fitnah keji” yang berpotensi merusak kepercayaan publik terhadap pesantren.
“Kalau tuduhan ini tidak bisa dibuktikan, maka ini adalah penghinaan keji terhadap ulama. Jangan paksa kami diam. Kami akan turun!” serunya.
AMI mengklaim, sedikitnya 2.000 massa akan dikerahkan dalam aksi yang dijadwalkan berlangsung pada 14–15 April 2026. Titik aksi dipusatkan di kantor wilayah Partai Keadilan Sejahtera Jawa Timur dan Surabaya.
Seruan aksi telah menyebar luas. Santri, alumni, tokoh masyarakat, hingga aktivis disebut mulai bergerak. Konsolidasi dilakukan secara masif di berbagai wilayah Madura.
Baca juga: AMI Dukung Program Revitalisasi Sekolah di Madura, Apresiasi Kinerja Kadisdik Jatim
Dalam selebaran yang beredar, AMI menyampaikan tiga tuntutan tegas:
- Copot Aboe Bakar Al-Habsyi dari jabatannya
- Buka data dan buktikan tudingan narkoba terhadap pesantren
- Proses hukum dugaan pencemaran nama baik secara transparan
Namun di tengah gelombang kemarahan ini, sejumlah pihak mengingatkan pentingnya menjaga ruang publik tetap rasional dan berbasis fakta.
Pengamat menilai, polemik ini bisa melebar jika tidak segera diselesaikan secara terbuka. Di satu sisi, ulama dan pesantren merupakan pilar sosial yang sensitif terhadap stigma. Di sisi lain, tuduhan serius seperti narkoba menuntut pembuktian yang jelas dan akuntabel.
Baca juga: AMI Soroti Dugaan Reses Enny Minarsih Digelar Usai Penutupan, Peserta Diberi Uang Saku Rp25 Ribu
Situasi kini berada di titik krusial: antara kemarahan massa dan kebutuhan akan klarifikasi berbasis data.
“Kami siap turun. Ini bukan sekadar aksi, ini perlawanan!” tutup Baihaki.
Jika tak ada penjelasan yang menenangkan dalam waktu dekat, Surabaya berpotensi menjadi panggung ledakan emosi publik di mana marwah, politik, dan kepercayaan masyarakat dipertaruhkan.
Editor : Redaksi