Membumikan Ilmu Kampus: Bagaimana Warung Makan Bu Ulfa Melompati Rantai Kemiskinan

Reporter : Redaksi

SURABAYA | pantaukota.com - Di sebuah sudut di Jalan Kedung Tarukan, Kelurahan Pacar Kembang, Surabaya, selalu ramai oleh dentang sendok - garpu yang beradu di piring dan aroma gurih masakan rumahan saban pagi. Marliyah Ulfa (59 tahun) dibantu suaminya sejak pukul 4 pagi dengan cekatan menata jualan di gerobaknya pada dapur sederhana berlantaikan semen. Pembelinya bervariasi, mulai dari jemaah yang baru pulang sholat Subuh, para pekerja yang berangkat di pagi hari hingga para orang tua yang membelikan lauk tambahan untuk anaknya di sekolah. Pemerintah Kota Surabaya mencatat Bu Ulfa sebagai warga miskin binaan karena penghasilan per bulan masih dibawah UMR, tetapi semangatnya untuk berdiri di atas kaki sendiri tak pernah padam.

Selasa, 8 September 2026

Kegigihan saja kerap kali belum cukup untuk mengembangkan usaha. Warung Makan Bu Ulfa sebelumnya harus berhadapan dengan tembok tebal keterbatasan khas usaha mikro. Proses produksi berjalan lambat karena memakai alat-alat konvensional, area dapur terbatas, tampilan warung belum tertata, serta belum ada pencatatan keuangan maupun metode pembayaran digital. Usaha rumahan ini rentan tergerus persaingan jika tidak mendapatkan penanganan yang tepat.

Bermula dari hal tersebut, Tim Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) dari Universitas Airlangga (Unair) yang terdiri dari Tri Siwi Agustina (FEB), Puput Tri Komalasari (FEB) dan Bambang Soeharto (Fakultas Vokasi) hadir membawa solusi nyata untuk menjawab tantangan tersebut. Pendampingan holistik yang didukung Kementerian Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi (Kemandiktisaintek) melalui Program BIMA – Program Kemitraan Masyarakat 2026 ini dirancang untuk membangun sistem usaha yang mandiri dan berkelanjutan, bukan sekadar memberi bantuan sementara.

Inovasi Produk dan Pembaruan Dapur

Pembaruan peralatan masak menjadi langkah awal pendampingan ini. Tim meremajakan alat-alat masak lama berbahan aluminium dengan peralatan masak ber-standar pangan (food grade) yang jauh lebih higienis dan aman bagi kesehatan. Penggunaan alat-alat masak berteknologi seperti chopper telah memangkas waktu pemrosesan memasak dari 5 jam hingga 3 jam, karena sebelumnya pembuatan bumbu dilakukan secara manual.

Tim PKM juga memperkuat keterampilan mitra melalui pelatihan pembuatan bakso berbahan dasar nangka muda (tewel) lewat metode DORA (Doing-Observation-Reflection-Action). Inovasi ini tidak hanya menambah variasi menu harian, tetapi juga berhasil dikembangkan oleh Bu Ulfa menjadi olahan kreatif lain, seperti Mie Ayam Toping Ceker Bakso Tewel, Rolade, dan Capcay.

Area pelayanan dan dapur warung kini tampil beda setelah ditata ulang (redesign). Tempat makan yang sebelumnya kusam berubah menjadi lebih bersih, rapi, dan nyaman, lengkap dengan papan latar (backdrop) serta daftar menu yang terlihat jelas oleh pembeli.

*Pemasaran Digital dan Keuangan yang Rapi*

Pengelolaan keuangan dan strategi pemasaran mendapat perhatian serius dari tim pendamping. Dosen dan mahasiswa mendampingi Bu Ulfa dalam menentukan harga jual yang pas dengan menghitung margin keuntungan secara tepat. Langkah ini membuat Bu Ulfa mantap menetapkan harga masakan yang konsisten melalui buku menu cetak.

Sisi visual usaha semakin kuat lewat pembuatan logo baru yang lebih menarik dan mencerminkan identitas Warung Makan Bu Ulfa. Logo ini terpasang di berbagai media promosi, seperti banner berdiri (X-banner), celemek, kertas pembungkus nasi, kotak makanan, hingga tempat tisu.

Kehadiran teknologi juga memperluas jangkauan pasar warung ini. Warung Makan Bu Ulfa kini terdaftar di Google Maps dan aktif melakukan promosi harian melalui fitur WhatsApp Story. Bu Ulfa sempat ragu dan trauma terhadap pembayaran digital akibat pernah menjadi korban penipuan, namun tim perlahan memberikan edukasi hingga beliau berani menerapkan pembayaran non-tunai melalui QRIS. Bu Ulfa bahkan makin aktif berjejaring dalam Komunitas UMKM di Kelurahan Pacar Keling. Mandaat berjejaring telah dirasakan bu Ulfa, dimana sepanjang periode bulan Agustus telah mendapatkan informasi adanya bazaar UMKM lokal dan bu Ulfa ridak menyia – nyiakan kesemapatan tersebut untuk berpartisipasi.

*Kenaikan Omzet 70 Persen dan Bukti Nyata SDG 1 & 8*

Rangkaian pendampingan ini membawakan hasil yang nyata pada kondisi finansial warung. Omzet harian Bu Ulfa yang awalnya stagnan di angka Rp150.000 per hari, naik signifikan hingga rata-rata mencapai Rp250.000 sampai Rp300.000 per hari hingga Agustus 2026. Angka ini mencatatkan kenaikan omzet sebesar 70 persen. Pesanan nasi kotak yang terus berdatangan serta penjualan ragam sayur matang menjadi pendorong utama kenaikan pendapatan ini.

Keberhasilan ini menjadi bukti nyata penerapan tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs):

1. SDG 1 (Tanpa Kemiskinan): Program ini berhasil membantu keluarga miskin kategori Desil 2 untuk keluar dari keterbatasan ekonomi melalui peningkatan pendapatan yang mandiri dan stabil.

2. SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi): Pembaharuan tata kelola usaha mikro terbukti mampu menciptakan usaha keluarga yang produktif, bersih, dan siap bersaing di era digital.

*Apresiasi Evaluasi Lapangan: Pengabdian yang Membumi*

Keberhasilan program pendampingan ini makin lengkap setelah mendapatkan peninjauan langsung di lapangan.
Tim Reviewer dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemandiktisaintek) hadir melaksanakan kegiatan monitoring dan evaluasi (monev) pada 10 September 2026. Hasil evaluasi memberikan apresiasi yang sangat positif terhadap capaian warung ini.

Tim reviewer menilai program pengabdian masyarakat ini sangat "membumi". Istilah ini menggambarkan keberhasilan para akademisi dalam memetakan masalah secara tepat, menjawab kebutuhan nyata pelaku usaha kecil, serta memberikan solusi praktis yang bisa diteruskan oleh mitra secara mandiri dalam jangka panjang.

Kisah Warung Makan Bu Ulfa menjadi bukti nyata bahwa ilmu dari bangku kuliah mampu memberikan perubahan nyata saat diterapkan langsung di tengah masyarakat. Penerapan ilmu tersebut berhasil mengangkat taraf hidup dan kesejahteraan pelaku usaha kecil.

Editor : Redaksi

Trending Minggu Ini
Berita Terbaru